Selasa, 07 November 2023

DOA UNTUK KESATUAN

Yohanes 17:11 (TB) Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

Ayat di atas adalah satu bagian dari doa Tuhan Yesus untuk murid-murid-Nya. Dua pokok doa di sini yaitu: peliharalah mereka dalam nama-Mu, dan supaya mereka menjadi satu.

Murid Yesus (kita semua) masih ada dalam dunia. Dunia ini menjadi tantangan dan ujian bagi kita. Jika tanpa pemeliharaan Tuhan, kita akan gagal. Sekarang ini serangan iblis bagi gereja sangat gencar, baik secara terang2an maupun secara tersembunyi melalui orang2 internal gereja, yg Yesus sering sebut sebagai "serigala berbulu domba." Yesus berdoa kepada Bapa: "peliharalah mereka dalam nama-Mu." Puji Tuhan, Yesus selalu menopang murid-Nya/gereja-Nya.

Di dalam menghadapi realita hidup di dunia yg penuh tantangan, gereja harus bersatu. Jangan mudah terprovokasi oleh antek2 iblis, perbanyak doa. Paulus juga menasehatkan, "Jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa." Kenapa kita bisa tenang? Karena Yesus ada di pihak kita. Bersama Yesus kita pasti menang.

Salam misioner

 

Rabu, 23 November 2016

BERBAHAGIALAH ORANG YANG MEMBAWA DAMAI

BERBAHAGIALAH ORANG YANG MEMBAWA DAMAI
Matius 5:9

Di suatu moment diadakan lomba melukis, yang mana lukisan yang dimaksud menggambarkan makna syalom (damai) dalam pengertian bahasa Ibrani. Satu orang melukis pemandangan yang indah dimana ada gunung, sungai dan hamparan sawah yang luas dengan bentangan awan putih. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan menggambarkan kedamaian, bak "negeri di atas awan", Lolai, Tana Toraja. Orang kedua melukis sebuah keluarga yang harmonis sedang bersantai di teras rumahnya yang sangat indah. Orang ketiga melukis seekor burung yang bertengger di sarangnya di lekukan tebing batu. Dengan tenangnya ia memberi makan kepada anaknya yg kecil dalam sarangnya itu, walaupun angin kencang dan hempasan ombak laut sangat ganas melanda tebing itu.
Setelah diadakan penilaian, ternyata yang menjadi juara adalah lukisan dari orang ketiga. Inilah yang menggambarkan damai yang sesungguhnya. Keberadaan orang kristen di dunia ibarat lukisan ketiga, walaupun ditengah bahaya, namun tetap merasa damai dan tenang atas jaminan penyertaan Tuhan.
Untuk dapat menjadi pembawa damai, maka pertama-tama kita harus memiliki damai. Damai yang dimaksud bukanlah damai yang seperti dunia tawarkan, yang dapat luntur oleh berbagai keadaan sekitar. Kristus, Sang Raja Damai, datang membawa damai yang sejati. Setiap orang yang menerimanya akan tetap damai sekalipun berada di tengah bahaya. Bahkan Sang Raja Damai itu mengutus umatNya ke dunia ini seperti "domba ke tengah-tengah serigala". Sungguh mengerikan bahaya yang di sekeliling kita, "serigala-serigala buas yang tidak pernah merasa puas dengan mangsanya". Namun sangat mencengangkan bahwa "domba" yang menerima damai itu, benar-benar merasa damai sekalipun di tengah-tengah serigala buas. Ingat cerita tentang Daniel, Sadrak, Mesak dan Abednego? Daniel benar-benar masuk dalam kandang singa, namun Tuhan mengatupkan mulut singa sehingga tidak satu pun yang berlaku kasar terhadapnya. Yang mencengangkan lagi setelah Daniel keluar dari kandang singa, bahwa Raja Darius sendiri mengeluarkan maklumat bahwa di seluruh wilayah kekuasaan Media/Persia setiap orang harus tunduk pada Allahnya Daniel. Reaksi pendeta dan jemaat terkait pengemboman tanggal 13 Npv. 2016 terhadap pelaku, dengan memanjatkan doa "Ya Bapa, ampunilah dia karna dia tidak tahu apa yang ia perbuat", adalah bukti kualitas damai yang memenuhi kehidupan mereka. Terwujudlah pengajaran Tuhan Yesus yang mengajakan: kasihilah musuhmu, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.
Hanya orang yang benar-benar telah didamaikan dengan Allah, yang dapat melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh.
Bagaimanakah sikap gereja menghadapi segala bentuk tantangan, kesulitan, bahkan perlawanan yang akan semakin mempersempit ruang gerak gereja? Ingat, rumput ilalang jika dibabat memang tidak nampak lagi di permukaan tanah, tetapi di dalam tanah akarnya semakin merambat lebih jauh kemudian tumbuh lebih banyak lagi. "Serigala" bisa berhasil membunuh tubuh, tetapi semangat iman umat tidak dapat dibunuh, benih Injil tidak dapat dimatikan oleh berbagai tindak kekerasan.
Untuk bisa menjadi pembawa damai, belajarlah kepada Sang Pembawa Damai itu. Yesus berkata, belajarlah kepadaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Inilah karakter Kristus yang patut kita teladani. Apakah Yesus tidak bisa marah? Oh, tidak! KemarahanNya memuncak saat Ia melihat Bait Allah sudah disalahgunakan. Ia menjungkirbalikkan meja-meja tempat menukar uang. Ia juga memberikan sindiran yang sangat tajam kepada para pemimpin agama Yahudi yang munafik dengan menyebutnya seperti kuburan, yang diluar bagus, bersih, namun di dalamnya penuh tulang belulang yang berbau dan kotor. Sebagai pembawa damai, orang Kristen harus juga berjuang memerangi korupsi yang sudah memporak-porandakan perekonomian negara kita, namun mulailah dari dalam diri sendiri. Bersihkanlah dirimu lebih dahulu dari korupsi, kemudian ikutlah memberantas korupsi.
Bila kita membawa damai, maka kita disebut anak-anak Allah. Hal inilah yang sangat membahagiakan. Sebagai anak-anak Allah, maka kita akan menjadi pewaris kerajaan berkat-berkat Allah. Tetapi jika seorang kristen tidak membawa damai, lalu dia dikenal sebagai anak siapa?
Jadilah pembawa damai, biarlah semua orang mengenal bahwa Yesuslah Raja Damai. Bimbinglah orang lain untuk memperoleh damai yang sejati itu. Amin